Sabtu, 23 Mei 2015

"UNTUK NURUL"
Subhanallah, belajar memang tidak ada batasnya. Ini kisah kami  jum’at empat belas maret 2015.
Gadis kecil ini Nurul namanya. Ia dikenalkan lewat teman – temannya ,“ namanya Nurul Bu guru.” Teman- temannya menjawab serentak. Saya mulai mengerti, awalnya saya nggak nyambung kenapa yang menjawab adalah teman – temannya. Ternyata, anak ini tidak seberuntung teman – temannya yang lain, Nurul harus menyandang status tunawicara sejak usianya yang masih amat dini.
“Ayo coba ditulis dikertasnya masing masing,nama dan cita – cita, tulis namanya dulu, kemudian dibawah tulisan namanya, tuliskan cita – cita kalian masing – masing ya.  sudah mengerti? Mengerti ibu guru.
Masing – masing mereka menulis dengan antusias. Salah satu orangtua murid yang menyaksikan kami sedang belajar menjelaskan, “nak, si nurul memang (sambil mengisyaratkan dengan tangannya tentang si Nurul ) , saya langsung mengerti.
“ Tapi dia dikenal pintar disekolah” tutur salah satu ibu disamping saya.
Kemudian, saatnya kami mendengarkan perkenalan dari anak – anak. Tanpa harus mengulang dua kali, anak – anak antusias mengangkat tangan ingin memperkenalkan dirinya pertama kali. Satu persatu cita – cita mereka menggema diteras rumah salah satu warga desa Jenggalu ini.
 Guru, Polisi, dokter, penyanyi, bidan, tentara, itu sebagian cita – cita yang mereka sebut. Untuk Nurul saya membacakan cita – citanya di depan teman – temannya. “Nurul, cita – cita ingin menjadi seorang guru , tepuk tangan untuk Nurul.”
Saya menatap mereka dengan lekat. “Boleh jadi saya belum mampu sepenuhnya menjadi obat peredam jikalau beberapa hari kedepan semangat mereka terhenti”, dalam hati saya bergumam.
“Minggu depan, ibu usahakan ada bapak guru yang hadir”.
 “woooooow “. Serentak wajah semangat dan penasaran seketika mengubah ekspresi mereka. Saya hanya tersenyum bahagia sembari memikirkan jangan sampai bapak gurunya tidak bisa hadir.
Tentang Nurul, sampai malam ini saya masih mengingat dengan jelas nama dan wajahnya, namun yang paling dalam adalah tentang cita – citanya untuk menjadi seorang guru.
Ayo rul, kembangkan senyumanmu. Dunia tidak melihat tunawicara kamu. Tuhan maha adil.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar